“Kekosongan, ketiadaan diri, lahir dalam hilangnya keberanian. Keberanian menghadapi rasa sakit untuk melahirkan sesuatu yang agung.”

Membaca kalimat darimu beberapa waktu lalu itu seakan mengoyak kembali luka yang belum mengering. Selanjutnya adalah rasa malu, tak termaafkan karena menjadi manusia yang setengah-setengah, “medioker”. Hampir tak ada lagi passion yang mampu menggetarkan pribadi ini. Rupanya diri sudah hanyut terlalu jauh dalam kekosongan. Ya, kekosongan yang lahir dari hilangnya keberanian menghadapi rasa sakit untuk melahirkan sesuatu yang agung. Yang tinggal adalah keraguan, kebuntuan dan kebisuan. Keyakinan dan kewaspadaan yang menggerakkan diri luruh secara perlahan. Namun seperti api lilin yang sesekali meredup tertiup angin, nyala itu tak pernah hilang seluruhnya. Kalaupun padam semestinya bisa dikembalikan selagi sumbu masih ada, meski harus dengan bantuan yang lain.

Awalnya adalah rasa sakit. Dan ternyata rasa sakit yang terlalu kaya untuk diluapkan dalam kata. Orang bilang abaikan saja rasa sakit itu dan akan hilang dengan sendirinya. Perlahan si pesakitan diajak mengalihkan perhatian dari kenyataan sakitnya. Namun apakah pengabaian itu tanpa konsekuensi? Dan lantas membawa kita menuju fase yang lebih jauh melampaui rasa sakit itu sendiri? Ternyata tidak juga. Ignorance doesn’t kill the pain, it kills you! Sikap abai tidak membunuh rasa sakit, ia justru membunuhmu! Mungkin cara itu baik sejauh kita tahu kapan waktu untuk berhenti dan menggapai kembali kesadaran kita. Tanpa pengetahuan ini hanya akan membawa sikap yang serba abai. Ya, serba abai karena terlampau takut berhadapan dengan rasa sakit itu lagi. Eskapisme yang luar biasa memang, tapi tak bisa disangkal ada kenyamanan fisik disana.

Sakit fisik bisa kau tahankan, tapi sakit pedalaman mengoyakmu perlahan. Pain is nothing till you lose your mind”, rasa sakit itu tak ada artinya hingga kau mulai kehilangan akal sehat. Mungkin itu ungkapan yang tepat untuk melukiskan betapa jauh penetrasi rasa sakit ke dalam kesadaran seseorang. Memang tak pernah secara seketika, tapi lewat serangan yang konstan dalam rentang waktu tertentu tergantung seberapa kuat daya tahan seseorang, Ada kalanya air mata tumpah, bukan karena rasa sakit yang dirasakan tapi karena hampir-hampir kehilangan kendali atas diri. Kepedihan memuncak.

Kata ‘Guru’-ku, dan aku sangat sepaham, kedalaman spiritual seorang akan senantiasa berbanding lurus dengan bobot ujian yang akan ia jalani. Itu sistemnya Allah katanya. Karenanya, semakin tinggi maqam spiritual bakal semakin berat juga ujiannya. Setiap nikmat yang diberikan adalah sekaligus ujian bagi hamba-Nya. Ini adalah gerak tanpa akhir, tanpa henti dan sekali orang merasa ia sedang di puncak capaiannya, sesungguhnya ia sedang lena, lepas dari keterjagaannya. Ingatkah dulu sepintas lalu sempat kubilang kita masih terlalu muda untuk tahu segala hal? Di balik progresivitas intelektual dan spiritual yang seolah mampu membikin dunia ini hadir telanjang di hadapan, juga manusianya, ada yang diam-diam mengintai disana: kesadaran yang menjompak keluar batasnya. Semakin jauh orang memasuki pedalaman diri, semakin paham pula musuh terbesar yang sesungguhnya: diri sendiri.

Semua terasa sempurna hingga ujian yang tak pernah terbayang hadir: sakit berkepanjangan yang nyaris tak tersembuhkan. Begitulah hantaman maha dahsyat itu hadir tepat ketika kepercayaan diri menggunung, seolah tak akan ada di dunia ini yang takkan bisa teratasi. Banyak hal bermunculan dan tidak jarang itu mengusik keyakinan. Keyakinan atas diri dan atas hal-hal lain. Yang rasional, yang melampaui rasional. Yang teduh, hingga yang rusuh.

Kali ini dibukakan kesadaran baru bahwa manusia punya batasnya sendiri, tak semua terjangkau olehnya. Dan keleluasaan manusia adalah menerima dirinya yang terbatas, begitu kata Oom Goen. Datang lagi kesadaran baru bahwa pikiran, tubuh dan segala yang disebut mikrokosmos dalam diri seorang manusia tidaklah cukup menjelaskan aneka misteri yang melingkupi kesehatan manusia. Ada kekuatan yang mesti diakui ada di luar jagat raya kecil bernama manusia. Sebuah dunia yang lain, dengan kekuatan dan kuasa yang lain. Betapapun banyak kajian tentang kesehatan dan spirtualisme, rasanya belum ada yang mampu menjelaskan fenomen ini. Mungkin karena ia memang di luar logika dan bahasa. Atau memang yang ghaib selalu terlebih dulu dihadapkan pada pengingkaran khalayak, karena memang sulit membuktikan selain dengan mengalami sendiri. Mungkinkah kau jelaskan hal yang kuyakin kau mengerti ini kawan? Sulitnya menjelaskan kerumitan yang ada di luar nalar ilmiah kesehatan?

Sakit itu jalan spiritual. Penuh bahaya dan yang lemah tak akan bertahan. Tepat seperti kata Chopra, sendirian dalam menempuh jalan ini mengandung resiko yang berlipat juga waktu yang lebih lama dibanding jika ada seorang guru yang membimbing. Ya, seorang guru yang bisa membuat kita meletakkan seluruh keyakinan kita di hadapannya dan membiarkan sang diri melebur di dalamnya. Bagi orang yang lama ditempa dalam pergulatan intelektual untuk tidak tunduk pada otoritas apapun, tentu bukan hal yang mudah menerima pendapat macam ini. Namun satu syarat untuk menempuh jalan spiritual itu adalah, sekali lagi, pengakuan akan keterbatasan diri. Karena yang spiritual melampaui yang rasional, maka perlu seorang pembimbing untuk menempuh jalan yang tak sepenuhnya jelas itu. Dari sinikah jalan pembebasan itu bermula? Semoga.

Ada kutipan dari Olenka-nya Budi Darma yang sangat menyentak (dan mungkin akan banyak ditentang oleh mereka yang hidup penuh optimisme tanpa kenal tragedi):

“Sadar atau tidak, setiap individu pada akhirnya harus mengakui bahwa hidupnya adalah serangkaian kekosongan. Hanya sekali mereka berarti, sesudah itu mereka mati… Mereka tergencet antara keinginan mereka untuk menentukan diri mereka sendiri dan ketidakberdayaan mereka… (mereka pun) terpakasa mengakui bahwa mereka bukanlah arsitek jiwa dan raga mereka.”

Ternyata, semua perjuangan, daya upaya yang dikerahkan seorang sahaya semesta ini untuk keluar dari sakitnya senantiasa mendatangkan kesakitan yang makin ganas pula. Pada titik ini teranglah sudah satu kata yang tak asing ditemui tapi begitu sulit dilakoni: tawakkal.